https://www.google.com/search?q=Sedgewick+Raft+Counting+Chamber+(SRCC)&oq=Sedgewick+Raft+Counting+Chamber+(SRCC)&aqs=chrome..69i57.262j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8
source: google.com

Praktikum Modul Plankton BAB 2 Teori Dasar

Praktikum Modul Plankton BAB 2 Teori Dasar

https://www.google.com/search?q=Sedgewick+Raft+Counting+Chamber+(SRCC)&oq=Sedgewick+Raft+Counting+Chamber+(SRCC)&aqs=chrome..69i57.262j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8
source: google.com

2.1.  Pengertian Plankton

Praktikum Modul Plankton BAB II – Plankton adalah makhluk (tumbuhan dan hewan) yang hidupnya mengapung, mengambang, atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya (kalaupun ada) sangat terbatas sehingga selalu terbawa hanyut oleh arus. Istilah “plankton” sendiri diperkenalkan oleh Victor Hensen tahun 1887, yang berasal dari bahasa yunani, “planktos”, yang berarti menghanyut atau mengembara. Plankton berbeda dengan nekton yang merupakan hewan yang mempunyai kemampuan aktif berenang bebas, tidak bergantung pada arus, seperti misalnya ikan, cumi-cumi, paus. Lain pula dengan bentos yang merupakan biota yang hidupnya melekat, menancap, merayap, atau meliang (membuat liang) di dasar laut, seperti misalnya kerang, teripang, bintang laut, dan karang (coral) (Nontji, 2008). Plankton menghuni seluruh zona pelagis dan dasar samudera, laut, atau badan air tawar. (Kasim, 2020).

Plankton memiliki berbagai jasa bagi bumi, di antaranya adalah penyedia oksigen utama, komponen utama rantai makanan ekosistem perairan, menyerap karbon dioksida dari atmosfer, hingga memasok bahan bakar kendaraan. Kontribusi plankton jenis fitoplankton dan rumput laut mampu menghasilkan 70 persen oksigen bumi. Faktanya, salah satu jenis fitoplankton, Prochlorococcus menghasilkan oksigen untuk satu dari lima kali tarikan napas manusia. Selain itu, plankton jenis zooplankton juga berperan menggunakan pergerakan Diel Vertical Motion (DVM) untuk memakan fitoplankton yang kaya akan karbon. Hal ini membantu proses yang disebut pompa biologis yang menangkap karbon dioksida dari udara dan memindahkannya ke laut dalam. Jika pompa biologis tidak ada, maka karbon dioksida hampir dua kali lipat akan berada di atmosfer. (Purnama, 2020).

2.2.  Jenis-Jenis Plankton

Berbeda dengan hewan lain yang diklasifikasikan berdasarkan taksonomi, pengklasifikasian sebuah organisme plankton hanya ketika organisme hidup melayang-melayang di kolom air dan bergerak mengikuti pergerakan massa air (Rachman, 2020). Dalam pengklasifikasiannya, plankton dapat dibagi berdasarkan beberapa parameter seperti cara memproduksi makanan, siklus hidup, dan ukurannya.

2.2.1   Berdasarkan Cara Mendapatkan Makanan

Berdasarkan cara mendapatkan makanan, plankton terdiri dari dua kelompok besar organisme akuatik yang berbeda yaitu organisme fotosintetik atau fitoplankton dan organisme non fotosintetik atau zooplankton. Fitoplankton (Phytoplankton) merupakan tumbuhan mikroskopik (bersel tunggal, berbentuk filamen atau berbentuk rantai) yang menempati bagian atas perairan (zona fotik) laut terbuka dan lingkungan pantai. Sel dari fitoplankton mengandung klorofil dan pigmen fotosintetik lainya yang dapat menangkap energi cahaya dengan panjang gelombang tertentu untuk menjalankan fotosintesis atau memproduksi makanan sendiri. Fitoplankton memegang peranan yang sangat penting dalam suatu perairan. Fungsi ekologisnya sebagai produser primer dan awal mata rantai dalam jaringan makanan menyebabkan fitoplankton sering dijadikan skala ukuran kesuburan suatu ekosistem. Fitoplankton mencakup diatom, dinoflagellata, dan cyanobacteria. Sedangkan zooplankton merupakan golongan hewan perenang aktif, yang dapat mengadakan migrasi secara vertikal pada beberapa lapisan perairan, tetapi kekuatan berenang mereka sangat kecil jika dibandingkan dengan kuatnya gerakan arus itu sendiri (Harris, 2012). Berbeda dengan fitoplankton, zooplankton tidak dapat menghasilkan makanan sendiri. Oleh karena itu, zooplankton menjadi konsumen tingkat 1 pada ekosistem perairan. Zooplankton memanfaatkan pergerakan vertikal setiap harinya (Dial Vertical Motion) sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan efisien energi. Pergerakan ini dilakukan pada malam hari untuk bergerak naik menuju permukaan laut untuk mencari mangsa dan turun pada siang hari untuk menghindari predator dan menghemat energi.

2.2.2   Berdasarkan Siklus Hidup

Menurut batasan daur hidup, (Nontji, 2008) mengelompokan plankton menjadi tiga bagian yaitu holoplankton, meroplankton, dan tikoplankton. Holoplankton merupakan plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai plankton mulai dari telur, larva hingga dewasa. Pada umumnya, zooplankton termasuk di dalam kelompok ini. Beberapa di antaranya adalah copepod, amphipoda, salpa, dan chaetognatha. Meropplankton adalah jenis plankton yang menjalani kehidupannya sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yaitu pada tahap berupa telur dan larva. Biota yang termasuk meroplankton sangat beragam, dan pada umumnya mempunyai bentuk yang sangat berbeda dari bentuk dewasanya. Sebagai contoh adalah larva krustasea seperti udang dan kepiting yang mempunyai perkembangan larva bertingkat-tingkat dengan bentuk berbeda dari dewasanya. Sedangkan tikoplankton (thycoplankton) merupakan plankton sejati, karena dalam keadaan normal biota ini hidup di dasar laut sebagai bentos. Namun pada kondisi tertentu, misalnya dengan adanya arus, pasang surut, dan pengadukan dapat menyebabkan biota tersebut terangkat dari dasar dan terbawa arus sehingga sementara menjadi plankton. Contoh dari tikoplankton adalah beberapa jenis alga diatom yang normalnya hidup di dasar (benthic diatom), tetapi dapat terangkut dan hanyut sebagai plankton (Mulyadi, 2012).

2.2.3   Berdasarkan Ukuran

Karena ada implikasi signifikan ekologi dan fisiologi ukuran tubuh di plankton, ukuran plankton digunakan sebagai langkah pertama dalam klasifikasi (Nontji, 2008). Berbagai kategori ukuran plankton adalah sebagai berikut:

  • Megaplankton adalah organisme mengambang besar yang melebihi 20 cm seperti ubur-ubur.
  • Makroplankton (2-20 cm), seperti pteropod dan krill.
  • Mesoplankton (0.2 mm – 2 cm), seperti copepod dan foraminifera.
  • Mikroplankton (20 – 200 μm), seperti siliata dan coccolithofor.
  • Nanoplankton (2 – 20 μm), seperti diatom dan dinoflagellata.
  • Pikoplankton (0.2 – 2 μm), seperti protista kecil dan bakteri.
  • Femtoplankton (0.02 – 0.2 μm), seperti virus.

 

2.3.  Kelimpahan Plankton

Kelimpahan merupakan tinggi rendahnya jumlah individu populasi suatu spesies, hal ini menunjukkan besar kecilnya ukuran populasi atau tingkat kelimpahan populasi (Kramadibrata, 1996). Sementara itu, Nybakken (1992) mendefinisikan kelimpahan adalah pengukuran sederhana jumlah spesies yang terdapat dalam suatu komunitas atau tingkatan trofik. Sehingga dapat didefinisikan kelimpahan plankton adalah jumlah total dari plankton per satuan kuadran yang diperoleh dilokasi penelitian.

Kelimpahan plankton sangat dipengaruhi oleh adanya migrasi. Migrasi dapat terjadi akibat dari kepaduan populasi, tetapi dapat pula disebabkan oleh kondisi fisik lingkungan, misalnya perubahan suhu, derajat keasaman (pH), arus, cahaya, nutrien, dan oksigen. Suhu perairan memiliki pengaruh terhadap berat jenis, viskositas, dan densitas perairan serta kelarutan gas dan unsur-unsur yang terlarut dalam perairan. Sedangkan perubahan suhu perairan juga dapat menimbulkan arus vertikal, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi keberadaan plankton di perairan. Selain itu, organisme yang hidup di perairan pasti memiliki faktor pembatas, salah satunya yaitu derajat keasaman atau pH. Menurut Effendi (2003) organisme perairan sangat sensitif terhadap pH dan menyukai pH kisaran 7,0 hingga 8,5. Sedangkan pada organisme perairan khususnya plankton memiliki kisaran toleransi pH antara 5,0 hingga 9,0 (Sofarini 2012. Hlm. 33). Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan dapat dilihat pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Pengaruh pH terhadap Komunitas Biologi Perairan

Nilai pH Pengaruh Umum
6,0-6,5 –       Keanekaragaman plankton dan bentos sedikit menurun.

–       Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas tidak mengalami perubahan.

5,5-6,0 –       Penurunan nilai keanekaragaman plankton dan bentos semakin tampak.

–       Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas masih belum  mengalami perubahan yang berarti.

–       Algae hijau berfilamen mulai tampak pada zona litoral

5,0-5,5 –       Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton, dan bentos semakin besar.

–       Terjadi penurunan kelimpahan total biomassa zooplankton dan bentos.

–       Algae hijau berfilamen semakin banyak.

–       Proses nitrifikasi terlambat.

4,5-5,0 –       Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton, dan bentos semakin besar.

–       Penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan bentos.

–       Algae hijau berfilamen semakin banyak.

–       Proses nitrifikasi terhambat.

Sumber: Effendi, 2003

Intensitas cahaya juga memberikan peranan penting dalam memengaruhi perubahan suhu dan unsur-unsur yang terlarut di perairan. Pada umumnya, cahaya yang dimanfaatkan fitoplankton hanya 0.056% dari total radiasi yang jatuh di permukaan bumi dan hanya sekitar 3% energi yang dapat digunakan secara produktif di perairan. Penetrasi cahaya merupakan faktor pembatas bagi organisme fotosintetik (fitoplankton). Oleh karena itu, proses fotosintesis pada plankton sangat dipengaruhi  oleh intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam perairan, sehingga intensitas cahaya ini dapat memengaruhi kelimpahan plankton pada suatu perairan.

2.4.  Metode Pengambilan Sampel Plankton

Pengambilan sampel plankton di perairan dapat dilakukan dengan cara menggunakan plankton net dengan  beberapa metode, di antaranya:

Gambar 1. Metode sampling plankton

Praktikum Modul Plankton BAB II
Sumber: http://www.sampling-analisis.com/

 

2.4.1.     Metode Sampling Secara Langsung Vertikal

Metode ini dilakukan untuk mengetahui sebaran plankton secara vertikal. Cara ini merupakan cara termudah untuk mengambil sampel plankton dari seluruh kolom air. Pengambilan sampel dilakukan ketika kapal berhenti, lalu plankton net diturunkan sampai kedalaman tertentu dengan pemberat di bawahnya lalu plankton net ditarik secara vertikal (Puteri, 2012).

2.4.2.     Metode Sampling Secara Langsung Horizontal

Metode ini dilakukan untuk mengetahui sebaran plankton secara horizontal. Caranya plankton net diturunkan pada suatu titik di laut, lalu ditarik kapal menuju ke titik lain. Sampel diambil seiring dengan pergerakan kapal secara perlahan (±  2 knot), lalu plankton net ditarik untuk jarak dan waktu tertentu (biasanya ± 5-8 menit) (Puteri, 2012).

2.4.3.     Metode Sampling Secara Tidak Langsung

Cara kerja pengambilan sampel plankton dengan metode ini adalah dilakukan dengan memasang botol wadah sampel di bagian belakang atau bawah plankton net. Botol berfungsi untuk menampung sampel plankton yang tersaring. Pada setiap titik pengambilan sampel, dilakukan penyaringan air. Air diambil menggunakan ember beberapa kali untuk disaring. Selanjutnya, botol wadah sampel dilepas dari plankton net dan diawetkan menggunakan formalin sampai konsentrasi akhir formalin menjadi 4% (Puteri, 2012).

2.5.  Teknik Enumerasi Kelimpahan Plankton

Enumerasi adalah  suatu perhitungan jumlah mikroba/mikroorganisme yang terkandung di dalam suatu sampel (Kawuri dkk, 2007). Enumerasi merupakan metode yang paling sederhana dalam pendugaan produktivitas perairan yaitu dengan cara menghitung jenis dan jumlah fitoplankton yang terdapat di suatu badan air. Hasil enumerasi biasanya dinyatakan dalam kelimpahan atau jumlah organisme per satuan volume tertentu, yang paling umum adalah individu atau sel per liter. Satuan yang lain yang biasa dipakai adalah individu atau sel per m3 . Enumerasi memiliki kelebihan mudah dan murah dalam proses pendugaannya, namun memiliki kekurangan bias yang cukup besar akibat dari perbedaan ukuran dari fitoplankton dan zooplankton yang mengakibatkan pendugaan kurang akurat. Dalam melakukan enumerasi pada plankton, terdapat metode yang dapat digunakan, yaitu Sedgewick Raft Counting Chamber (SRCC) dan Hemocytometer.

Metode SRCC merupakan suatu metode yang digunakan untuk menghitung jumlah kelimpahan plankton menggunakan Sedgewick Rafter Cell (SRC) sebagai preparat khusus dalam mengamati plankton. Pengamatan dengan alat ini ditunjukkan bagi mikrozooplankton dan fitoplankton dengan menggunakan mikroskop binokuler 100. SRC digunakan untuk identifikasi plankton karena memiliki kapasitas yang relatif lebih besar, sehingga dapat digunakan untuk identifikasi fitoplankton dan zooplankton yang berukuran mikro. Volume sedgewick rafter cell tepat 1 cc atau 1 cm3 dengan panjang 50 mm, lebar 20 mm, dan tebal  mm. Sedangkan metode Hemocytometer merupakan pengamatan sampel plankton menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 10×40. Pengamatan dengan alat ini biasa digunakan untuk perhitungan (counting) fitoplankton dengan ukuran < 10 μm (Taufiqullah, 2021). Namun, pada praktikum kali ini metode yang digunakan untuk enumerasi adalah metode SRCC.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *